Surat Untuk Diriku 10 Tahun Lalu

Avatar photo
Reading Time: 2 minutes

Prolog: Bilamana aku bisa mengirim surat untuk diriku di masa lalu, maka semua paragraf isi surat itu akan aku awali dengan kalimat “Terimakasih”.


Teruntuk diriku 10 tahun lalu, izinkan aku menyampaikan beberapa hal:

  • Pertama, terimakasih telah mau bertahan untuk tetap hidup.

Kamu yang makan dengan baik, tidak ada memilih makanan, hal ini membuat aku yang sekarang nyaman untuk hidup dimana saja.

Kamu yang tidak takut salah ketika bertanya (lebih tepatnya mungkin gak tahu malu hehe), walau teman-teman menghujatmu karena mereka ingin cepat keluar di jam istirahat atau di jam pulang sekolah, hal inilah yang membuat mentalku tangguh, tentunya aku tidak lagi bertanya asal-asalan ya.

Kamu yang menolak untuk berteman dengan orang yang memiliki kebiasaan buruk, walau kamu yang saat itu sangat penasaran bagaimana rasanya melakukan itu tapi kamu tetap bisa bertahan, hal ini yang membuat aku semakin bisa peka atas kesalahan yang benar salahnya.

Kamu yang tetap teguh walau pernyataan cinta pertamamu batal terlaksana, sedikit senyum palsu yang saat itu kamu tebar, hal ini membuat aku lebih kuat atas kesendirian yang aku tahu berpasangan itu butuh ilmu dan iman.

Kamu yang mau menghapal bahasa arabnya jari tangan, walau sulit sekali saat itu tapi terimasih untuk guruku yang membuat sebuah lagu penghapal kosakata, hal ini membuat aku tetap mengingat bahwa belajar bahasa bisa semenyenangkan itu.

Kamu yang mau menerima keadaan fisik yang dahulu bungkuk, walau begitu menyebalkannya bahwa kamu sendiri tak memahami kenapa jadi begitu, hal ini membuat aku sadar bahwa menerima adalah soal aku yang mau belajar dan melakukan perubahan menuju lebih baik. (klarifikasi: beberapa hal yang mungkin membuat aku tampak bungkuk; bawa semua buku pelajaran di tas, menundukkan pandangan dari zina mata, mewaspadai ada paku dijalan yang dalam agama akan mendapat pahala jika menyingkirkannya dari jalanan)

  • Kedua, kesalahan atau kebaikan yang telah kamu lakukan itu semua memang sudah kehendak-Nya.

Tidak ada penyesalan. Kini Aku yakin bahwa semua itu memang sudah menjadi ketetapan. Tanpa adanya kesalahan, aku yang sekarang mungkin tidak mengerti alasan itu terlarang. Tanpa adanya kebaikan, aku yang sekarang mungkin tidak mengerti alasan itu harus dikerjakan.

Tetapi, bukan berarti aku akan lakukan kesalahan untuk tahu alasan kenapa itu terlarang ya. Biarlah ketetapan Allah yang menjadi indikator apakah sesuatu baik atau buruk. Kamu tidak akan mampu tanpa-Nya.


Epilog: Yang pada akhirnya, masalalu bukanlah untuk dilupakan, tapi diterima dengan hati yang bersyukur bahwa masih dapat beriman kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

#30HBC10tahun #Day11 #30HariBercerita #CeritaRunnerLPC #Filosofi